Kamis, 28 Juni 2007

PERKATAAN YANG BENAR

Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (Q.S. Al Ahzab : 70)

Diantara nikmat yang Allah swt. berikan kepada manusia ialah lidah, yang dengannya kita dapat berbicara (berkomunikasi) dengan orang lain. Dari lidah itu dapat keluar perkataan yang baik dan bermanfaat, namun dapat pula keluar kata-kata yang keji, kotor dan tidak bermanfaat. Oleh karena itu kita harus selalu berhati-hati dalam berbicara, jangan asal diucapkan, tetapi hendaknya dipikirkan terlebih dahulu baik atau buruknya, dengan siapa kita berbicara, dan adakah manfaat dari yang kita ucapkan.

Ada dua buah perintah Allah swt. kepada orang-orang yang beriman di dalam surat Al Ahzab ayat 70 di atas, yaitu pertama perintah untuk ber- takwa kepada Allah swt. dan kedua perintah untuk berkata dengan perkataan yang benar. Bertakwa kepada Allah swt. artinya kita menjalankan segala perintah Allah swt.dan menjauhkan segala larangan-Nya.
Bertakwa kepada Allah swt. hendaknya jangan hanya di masjid saja, namun takwa haruslah dilaksanakan dimanapun dan kapanpun kita berada. Di kantor kita takwa, dipasar kita takwa, di sekolah kita takwa, bahkan di jalan dan di kendaraan- pun kita bertakwa. Kemudian sebagai aplikasi takwa tersebut, kita gunakan perkataan yang benar dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk dapat berbicara dengan benar, maka kuncinya ialah hati kita harus bersih. Bersih dari berbagai penyakit hati, seperti dusta, dendam, hasud dan dengki. Serta hati kita senantiasa diisi dengan zikrullah (menyebut dan mengingat asma Allah). Mari sejenak kita perhatikan teori teko. Apabila isi teko tersebut ialah air kopi yang berwarna hitam, maka dapat dipastikan air yang keluar dari mulut teko itu air yang berwarna hitam pula. Begitu pula jika isi teko ialah air susu yang putih, maka akan keluar pula dari mulut teko itu air yang berwarna putih.

Sama halnya dengan manusia, jika hatinya sudah bersih, niscaya akan keluar dari mulutnya perkataan yang menyejukan hati, perkataaan yang benar, bijak dan sarat akan nilai-nilai moral, hikmah dan falsafah kehidupan. Namun, jika hati manusia itu kotor dan berisi berbagai macam penyakit, maka niscaya akan keluar dari mulutnya perkataan yang menyakitkan hati, perkataan yang keji, mengandung kedustaan, fitnah, bahkan kental dengan kemunafikan dan kefasikan.

Ciri-ciri perkataan yang benar

Adapun beberapa ciri dari perkataan yang benar adalah sebagai berikut:

1. Perkataan yang mengandung manfaat

Allah swt. sangat menyukai orang-orang beriman yang selalu menjaga kesucian hati dan jiwanya. Karena jika hati dan jiwa seseorang selalu terjaga kebersihan dan kesuciannya, maka ia akan selalu menggunakan nikmat lis- an/lidahnya untuk berbicara dengan benar. Dan termasuk kelompok orang mu’min yang beruntung ialah mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna (Q.S. Al Mu’minun : 3)

Perkataan yang mengandung manfaat ialah perkataan yang mengandung unsur tausiyah (nasihat), yang mengajak orang lain kepada kebenaran (al haq) dan kepada kesabaran (ash-shabr) (Q.S. Al’ Ashr: 3), serta perkataan yang

bersumber kepada fakta dan realita, bukan yang berdasar kepada zhonn (pra- sangka) yang buruk dan tidak benar. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda yang artinya “Barangsiapa yang beriman kepada Allah swt. dan hari Akhir hendaklah ia berkata yang baik, atau diam”(H.R. Bukhari Muslim). Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa diam itu lebih baik daripada kita berbicara yang tidak benar dan tidak bermanfaat. Oleh karenanya berbahagia lah mereka yang terpelihara lisannya dari perkataan yang keji, serta selalu menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.

2. Perkataan yang tidak menyakiti hati orang lain

Islam ialah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk selalu meng- hargai dan menghormati orang lain. Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara (Q.S. Al Hujurat: 10). Bentuk persaudaraan dalam islam itu diwujudkan dengan saling mencintai, mengasihi, membantu dan meng- hargai hak-hak dan privasi orang lain. Serta tidak menghina, mencela dan merendahkan, serta membuka aib sesama muslim. Orang muslim yang baik ialah mereka yang dapat menjaga keselamatan muslim lainnya dari perbuatan lidah dan tangannya. Maksudnya ia berusaha agar ucapan atau perkataannya tidak menyakiti hati orang lain yang mendengarnya, serta tangannya tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan orang lain.

Kepada siapapun hendaknya kita tidak mengeluarkan perkataan yang da- pat menyakitkan hati atau perasaannya. Apalagi terhadap kedua orangtua kita yang telah merawat, mengasuh dan mendidik kita dengan penuh rasa cinta, kasih dan sayang serta dengan segala pengorbanan yang tulus ikhlas dengan harapan kelak anak-anaknya dapat menjadi manusia yang berbakti dan tahu berbalas budi . Maka terhadap mereka Alquran memberikan pedoman yang jelas, bagaimana cara kita memperlakukan kedua orangtua, yaitu: “Dan Tuhanmu telah memerintah- kan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepa- da keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(Q.S.Al Isra’ : 23)

3. Perkataan da’wah

Da’wah ialah sebuah usaha untuk mengajak manusia berbuat kebaikan dan meninggalkan segala keburukan. Da’wah dapat dilakukan dengan perbuatan (da’wah bil hal), dapat juga dengan perkataan (da’wah bil lisan). Tugas da’wah yang mulia ini bukan hanya tugas para da’i, ustadz atau mubaligh saja, namun setiap individu muslim dapat berda’wah sesuai dengan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki masing-masing. Da’wah bukan hanya di masjid saja, akan tetapi da’wah dapat dilakukan di rumah, di sekolah, di kantor, di pasar bahkan juga di hotel-hotel berbintang atau di Lembaga Pemasyarakatan (LP). Mari kita singsingkan lengan baju dan bersatu dalam barisan da’wah untuk membumikan Al Quran, menghancurkan kezaliman, menegak- kan kebenaran dan mengembalikan kejayaan Islam. Alangkah indahnya apabila kita menjadi bagian dari insan-insan pecinta da’wah Islam ini. Dan kalau kita ingin dapat berbicara dengan benar, maka gunakanlah lisan kita untuk selalu berda’wah, karena itulah sebaik-baiknya perkataan.

MENSYUKURI HIDAYAH

Suatu ketika Nabi Muhammad saw memohon kepada Allah Swt agar pamannya ( Abu Thalib ) yang telah mengasuhnya sejak kecil yang selalu menolong dan melindungi dirinya dari gangguan orang – orang kafir Quraisy, diberikan hidayah oleh Allah swt untuk memeluk agama Islam. Namun permohonan Nabi dijawab oleh Allah swt dengan firman-Nya, yang artinya:

Artinya ; “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memeberi petunjuk kepada orang – orang yang kamu kasihi, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, agar Allah lebih mengetahui orang – orang yang mau menerima petunjuk” ( QS.Al Qashash :56 )

Subhanallaah…. Patutlah kita bersyukur kepada Allah swt karena kita ( kaum muslimin ) yang tidak hidup bersama Nabi, tidak pernah menlihat dan menyaksikan kemu’jizatan Nabi, dipilih oleh Allah swt untuk mendapatkan hidayah dan meyakini Islam sabagai satu – satunya Diin ( agama ) yang benar dan memebawa keselamatan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.

Hidayah merupakan intan termahal dan mutiara yang paling berharga yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Karena hidayah agama inilah seorang muslim dapat merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah swt, nikmatnya shalat berjama’ah, bersedekah, menuntut ilmu dan nikmat dapat mencintai dan dicintai Allah, serta selalu bersemangat dalam mentadaburi Al Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Para ulama membagi hidayah Allah swt menjadi empat tingkatan, yaitu :

1. Hidayah berupa naluri ( garizah )

Potensi naluri pada diri manusia sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan potensi itulah manusia dapat memepertahankan hidupnya. Hal ini terutama terlihat pada bayi yang baru lahir. Pada saat bayi merasa lapar ia dianugerahi petunjuk Allah swt berupa kemampuan mengisap susu ibunya, dan ibunyapun diberi anugerah untuk memenuhi keinginan bayinya lalu menyusuinya.

  1. Hidayah berupa panca indera

Panca indera berupa mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, lidah untuk mengecap dan kulit untuk meraba dan merasa, semuanya merupakan petunjuk Allah swt bagi makhluknya guna mencapai sesuatu dan memenuhi kebutuhanhidupnya. Kontak dengan dunia luar tidak mungkin dapat dilakukan dengan naluri, tetapi hanya dapat dilakukan dengan panca indera. Karena itu, panca indera merupakan hidayah yang lebih tinggi tingkatannya dari naluri.

  1. Hidayah berupa akal

Hidayah Allah swt dalam bentuk akal hanya dianugerahkan pada manusia, tidak kepada binatang. Fungsi akal terutama untuk membedakan yang baik dengan yang buruk sebelum syareat datang memeberikan penjelasan. Dengan akalnya manusia dapat membe- dakan antara yang baik dan yang buruk. Dengan akal manusia dapat sampai kepada kesimpulan bahwa Allah swt. itu ada dan manusia wajib patuh kepada perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Meskipun demikian kemampuan akal manusia sangat terbatas. Ia tidak dapat menjawab sekian banyak pertanyaan manusia, khususunya yang berkaitan dengan alam metafisika atau menyangkut kehidupan sesudah mati. Karenanya manusia membutuhkan hidayah dalam tingkatan yang lebih tinggi, yaitu hidayah agama.

4. Hidayah Agama

Hidayah agama merupakan hidyah tertinggi yang dianugerahkan Allah swt. kepada makhluk-Nya. Agama terutama berfungsi memberi jawaban menyangkut sekian banyak hal yang tak mampu dijawab akal, atau meluuskan beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh akal. Dengan kata lain, agama berfungsi membimbing akal, agama diturunkan untuk memberi konfirmasi dan justifikasi terhadap pendapat akal.

Hidayah agama inilah yang membimbing manusia kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah swt. yang mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada nur (cahaya iman), dari kemusyrikan kepada ketauhidan, dari permusuhan kepada persaudaraan dan dari kehinaan kepada kemuliaan.

Alangkah indahnya jika kita dapat istiqomah dalam hidayah agama ini, tidak terkotori dan terkontaminasi oleh bunga-bunga indahnya dunia yang membuat kita terlena dan lupa beribadah kepada Allah swt. serta terlindungi dari virus-virus syetan yang selalu mengajak kita untuk berbuat dosa dan maksiyat.

Oleh karenanya, mari kita senantiasa berdoa agar diberi istiqomah dalam hidayah dan tidak condong kepada kesesatan dan kemaksiyatan untuk selamanya.

(Mereka berdoa); “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kauniakanlah kepada kami rahmat dari Engkau, karena seseungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia)”

(Q.S. Ali Imran : 8)